Catatan kecil perjalanan (pulau Untung Jawa) I


Saya akan membagi catatan ini dalam dua bagian. Bagian pertama perjalanan menuju Tanjung Pasir dan bagian kedua perjalanan menyeberang laut dan selama berada di pulau Untung Jawa.

Ada tiga alternatif rute kalau mau ke Pulau Untung Jawa. Dari Tanjung Pasir Tangerang jaraknya hanya 4,67 km, dari muara angke 16,9 km. Dari Ancol berjarak 20,5 km dan dari muara kamal 12,5 km. Ini hanya perjalanan iseng one day trip. Oke, mari kita mulai. Oh ya, saya juga akan lampirkan foto-foto. Namun karena diposting dari ponsel, caption dan urutannya tidak akan sesuai paragraf.

Perjalanan dimulai pukul 08.30 dari Otista, Jakarta Timur, Kamis (1/5/2014). Naik mobil sendiri, saya melaju melalui jalan tol menuju bandara Soetta. Namun tidak kearah terminal 1-2, kita melaju melewati terminal tiga atau pintu M1. Gak usah takut nyasar, soalnya untuk ukuran orang yang gak tau jalan seperti saya aja enggak nyasar, he he he. Setelah cukup lama, akhirnya keluar dari bandara soetta, memasuki kawasan desa Neglasari. Oh ya, setelah keluar bandara, kita ikuti jalan dan putar balik.

Disepanjang jalan neglasari, bagian kanan jalan terdapat sungai kecil yang masih aktif (airnya mengalir, red). Dan sepanjang itu pula banyak ibu-ibu mencuci pakaian. Dugaan saya, ibu-ibu ini adalah buruh pencuci laundry karena cuci pakaian dilakukan secara massif. Namun saya tak sempat turun dari mobil untuk iseng nanya. Jadi dugaan itu tetap menggantung.

Kondisi jalannya cukup bagus, gak seperti kebanyakan wilayah diprovinsi Banten lainnya yg identik dengan kemiskinan dan kemunduran peradaban. Mungkin karena berada dibelakang bandara Internasional soetta, jadi perekonomian penduduk setempat juga bergerak. Nah, raja jalanan disini mikrobus ukuran tiga perempat. Emang gak ugal-ugalan seperti metromini, tapi kalo berhenti dipinggir jalan bisa seenaknya. Padahal cuma ada dua jalur.

Melewati pasar, kondisi mulai ramai. Tapi jangan bayangkan kayak pasar tanah abang atau pasar kebayoran lama, kalau dua pasar itu kategori lalu lintasnya berstatus hanya Tuhanlah yang dapat mengurai kemacetan disana. He he he. Pasar arah tanjung pasir kondisinya ramaai lancar, mungkin juga karena hari libur. Setelah melewati satu pertigaan, dipertigaan berikutnya saya belok kanan (disebelah kiri ada sekolah Strada). Jalanan masih baguuus, dibeton. Cukup surprise juga, tumben-tumbenan wilayah non komersil tapi insfrastrukturnya oke (yup,mari kita sudahi mengkritik soal infrastruktur. Kembali ke laptop). Disebelah kiri ada yang unik pemirsah, ada spbu non pertamina-shell-petronas-total tengah beroperasi dan dipadati roda dua. Hanya ada satu dispenser. Saya tak mau menyebutnya spbu ilegal, katakanlah spbu berkarakteristik setempat (halaaaah, tepok jidat).

Jalannya masih luruuuuuus teruuuuuuuuuuus. Ternyata jalan beton itu berujung dan segera berpindah ke jalan beraspal yang ditengah-tengah jalur pasti berlubang, agak besar tapi tak dalam. Disebelah kanan terdapat taman buaya (karena keterbatasan waktu, saya tak mampir kesana). Disepanjang jalan menuju pantai banyak kedai yang menjual udang hidup dan aneka penghuni laut. Melewati Tanjung Pasir Resort, perjalanan masih terus berlangsung. Tapi saya terfikir, mengapa mendirikan resort dikawasan tersebut dan jauh dari pantai? Segmentasi bisnisnya pun berbeda dengan kondisi sekitar dan pertumbuhan kawasannya sepertinya tidak cocok dengan pendirian resort.

Singkatnya akhirnya saya tiba dimuka jalan masuk Tanjung Pasir. Dengan membayar biaya masuk 20 ribu untuk mobil (orang gratis), saya pun memarkirkan kendaraan disana. Oh ya, menurut rekan-reka yang pernah kesana, parkiran motor dan mobilnya cukup aman.

Setelah parkir, saya pun berjalan kaki menuju pantai. Tukang-tukang perahu sudah mulai berdatangan menawarkan jasanya. Akhirnya saya tiba di dermaga sandar perahu angkutan tradisional menuju Pulau untung Jawa. Kawasan pantai sudah ramai dipenuhi wisatawan demestik yang ingin menyeberang kepulau Untung Jawa. (Bersambung)

About Place And Idea

Hopping tour (imaginary). become an imaginary due to limited time. starting from the Affairs of work unfinished, yet nothing – until the overlap by other things. I'm also interested, preferring organic growth investment rather than speculation. Ask me any questions, I can chat-chatting about the economy, capital markets, political philosophy, history, literature, film, music and you. Yes, you.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s