cerita dibalik rusaknya sinetron kita


source: @aMrazing

TL ini lagi cerita tentang sinetron. Pemilik akun ini udah di mention minta izin share TL, tapi gak dibales. Mungkin mention aku terselip, krn dia dapet 290 mention setelah nulis ini. kalo dia suatu hari gak kasi izin&marah2 atas postingan ini, yah tinggal dicabut lagi aja.

Kisahnya seru. Selamat menikmati

… Laskar Pelangi, sinetron dengan production value yang tinggi, ratingnya nggak bagus. *sigh*

Kita di sini sampai menganalisa, kenapa sinetron dengan kualitas film bisa ‘gagal’ di rating. Kalau begini terus, upaya mendidik pasar dengan tontonan yang berkualitas akan tambah sulit, karena nggak direspon positif. Masak iya sih pasar kita nggak bisa menerima tontonan yang berkualitas tinggi? Gue jadi geregetan begini. Sinetron = ujung-ujungnya bisnis. Logikanya, kalo sinetron nggak menghasilkan untung, untuk apa diproduksi? Laskar Pelangi sharenya 8%. Sinetron zoom in zoom out melotot sana sini amnesia berkali-kali, sharenya 23%. Do the math. Namun dari pengamatan gue, cerita Laskar Pelangi terlalu serius, sisi fun anak-anak masih kurang menonjol. Syuting jauh-jauh ke Belitung, penggarapan serius, production value bagus, namun apresiasinya kurang. Agak nyesek, ya…

yang dicari rating memang bukan kualitas, karena kualitas gak bisa diukur. Yang dicari rating: harga spot iklan.

kita mampu gak u/ menghasilkan serial kayak Friends dkk, dan laku? Mampu? Pasti mampu. Laku? Belum tentu. :p

Bikin sinetron itu modalnya gede banget, lho. Miliaran. Dan nggak ada cerita bikin eps pertama langsung tayang. Setelah eps 1 dan 2 jadi, ditonton pihak TV. Kalau masuk selera mereka, akan tayang. Nggak diterima = buang ratusan juta. Katakanlah satu eps sinetron menghabiskan biaya 300 juta. Nah, bayangkan udah bikin 3 eps, dan ditolak.

@haqiachmad: tahun lalu gue bikin konsep sinetron, udh bikin sinopsis 10 episode, udah syuting 1 episode, ditolak stasiun tv. Jleb!!

@ninanenen: PH gue malah ga pernah nyentuh sinetron sama sekali. Abis modal gede musti dummy tayang 13 eps, rating ga naek lgsg babat.

Gak percaya satu sinetron menghabiskan ratusan juta? Pemeran utama yang punya nama, bayarannya bisa 50 jt per episode, lho. Itu baru untuk satu orang. Bayangkan sinetron yang memajang banyak artis terkenal. Berapa ratus juta untuk bayar mereka? Laskar Pelangi, walau nggak pake artis katakanlah, Nikita Willy, yang bayarannya muahal, tapi biaya sutingnya pasti gede. Bayar sutradara, kru, logistik, transportasi, editing, penulis, Dll dkk dsb. Mahal, bok! Atas nama kualitas. Rating?😦

Gue berharap banget, suatu saat nanti *ini khayalan babu, but still..* sinetron kita balik lagi ke tayangan seminggu sekali. Dengan hanya tayang seminggu sekali, banyak sekali aspek yang bisa ditingkatkan. Contoh: naskah. Karena tayang seminggu sekali, penulis nggak terlalu stress diuber deadline, sehingga kualitas naskah meningkat. Lalu dari sisi produksi. Sinetron stripping sekarang, syuting hampir 24 jam. Istirahat adalah kata yang mewah untuk kru. Gue sering banget denger cerita dan keluhan kru yang terkapar sakit karena terus menerus bekerja dan begadang. Bahkan ada yang masuk rumah sakit dan di opname karena kena typhus. Kerja begitu mana sehat, sih? Lalu, dengan tayangan seminggu sekali, KUALITAS AKTING pemain juga akan lebih maksimal. Nggak sekedar melotot sana sini.

Bayangkan kejenuhan artis sinetron yang harus berakting setiap hari, non stop selama berbulan-bulan. Akibatnya, kualitas drop. Gue pernah kirim naskah sinetron pagi, syutingnya siang, tayangnya malam. Kayak gitu mau ngarepin kualitas akting? Pfftt..

Idealnya, untuk setiap naskah yang akan di-shoot, ada workshop, pendalaman karakter, bedah cerita. Kenyataannya Ilustrasi: naskah datang, pemain baca sekilas, ngapal dikit, setengah jam kemudian take. Kebanyakan takenya sekali jadi! Bahkan, gue pernah kirim naskah per lima scene karena revisi yang terus menerus. Jadi ya jangan ngarep kualitas akting juga. Bayangkan, kalau tayangnya cuma seminggu sekali. Pemain lebih rileks, lebih bisa menjiwai karakter, tingkat stress dan kejenuhan berkurang. Dari sisi produksi dan editing pun akan lebih bagus lagi kualitasnya seandainya sinetron cuma tayang seminggu sekali. Sinetron seminggu sekali = minimal 7 sinetron seminggu = banyak variasi tontonan = banyak lapangan pekerjaan. Sekarang setiap nyetel TV, pasti ngeliat artis yang itu lagi itu lagi. Setiap hari. Selama berbulan-bulan. Bosen, kan?

Yang menggelikan, banyak sinetron menambahkan embel-embel season, namun per season nya bisa 200-an episode. Dulu, banyak lho sinetron yang bagus. Saat mereka masih tayang seminggu sekali. Noktah Merah Perkawinan, Janjiku, Si Doel. Wishful thinking gue: Gak usah ada sistem rating ala AC Nielsen lagi.

Merasa dalam pacaran harus banyak kompromi? Masih kalah jauh, sangat jauh, dibandingkan kompromi dengan stasiun tipi.πŸ˜› Walaupun kualitas masih dibilang minim, namun orang-orang di belakang layar sinetron kerjanya luar biasa keras. Kalau mau jadi penulis yang idealis, jangan nulis untuk sinetron. Bisa gila. Nulis skrip sinetron = ajang cari uang.πŸ˜‰

Mari bermain matematika, dengan menghitung keuntungan stasiun untuk satu judul sinetron. Katakanlah, stasiun membeli satu episode sinetron seharga.. 300 juta. Tayang saat prime time, katakanlah, pukul 7 malam. Spot iklan berdurasi 30 detik di TV saat prime time, katakanlah, 20 juta. Satu episode sinetron, iklannya 20 menit. Artinya, 20 menit jeda iklan dikali 20 juta rupiah dikali 2. Silakan hitung sendiri pendapatan stasiun tv untuk tayangan 1 judul. Hitungan kasar, dari iklan TV dapat 800 juta. Dikurangi harga sinetron yang 300 juta, keuntungan kotor = 500 jt. PER EPISODE.

Lalu, kalikan 500 juta dengan jumlah episode sinetronnya. Nah, tambah pusing dan tambah ngiler, kan? aMrazing kayaknya harga iklan 30 detik itu 30 sampe 60 juta. Sekarang kalian tahu, mengapa sinetron ada setiap hari. Mengapa jumlah eps nya (kalau rating tetap bagus) bisa ratusan eps. Intinya, yang “menderita” dalam pembuatan sinetron srtipping, adalah pekerja di balik layarnya. Logika sederhana para ‘pemegang uang’: sinetron kualitas bagus = sepi penonton = sepi rating = sepi duit. Then… why bother? Kita hanya bisa memaki, namun minim apresiasi pada sinetron yang beneran berkualitas.

About Place And Idea

Hopping tour (imaginary). become an imaginary due to limited time. starting from the Affairs of work unfinished, yet nothing – until the overlap by other things. I'm also interested, preferring organic growth investment rather than speculation. Ask me any questions, I can chat-chatting about the economy, capital markets, political philosophy, history, literature, film, music and you. Yes, you.
Aside | This entry was posted in source socmed. Bookmark the permalink.

4 Responses to cerita dibalik rusaknya sinetron kita

  1. Saya mengajar anak tetangga yg kebetulan suka maen sinetron walaupun cm jadi pemeran pembantu. Suatu ketika saya ditanya sama si Ibu perihal gaji saya bekerja di Kantor selama sebulan. Saya bilang 3 jutaan. Dan dengan bangga si ibu bilang, gaji segitu syuting si Ayen 2 hari.πŸ˜₯

    Like

  2. Hahaha…saya sebenarnya samgat tidak suka sinetron. tapi setelah membaca artikel ini jadi geli…terntyata yg kasian jadi tumbalnya kru film…yg makin kaya raya stasiun TVnya…huft

    Like

  3. decko says:

    sinetron sekarang cuma mengandalkan wajah ganteng/cantik. bodo amat ma kualitas akting n jalan cerita.!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s