malas menulis


Penyakit yang sulit disembuhkan, malas. Malas adalah penyakit akut yang tingkat destruktif dan radiasinya berkategori maksimal.

Malas tidak memiliki rasionalisasi dan argumentasi. Dia adalah dead end dari semua situasi.
Manusia yang terjangkit penyakit ini, akan pasrah tenggelam dalam kubangan waktu dan labirin kosong.

Seperti saya ini, para blogger. Penyakit malas menulis ini hampir melekat sejak beberapa tahun silam.

Padahal saya amat mahfum dan ‘menguasai’ jurus-jurus anti-malas dan kiat-kiat terhindar dari malas.

Setelah membaca dan meresapi jurus-jurus dan kiat-kiat itu, tetap saja saya malas mengaplikasikannya.

Nah, mulai hari ini (kalimat ini saya tulis enam hari lalu sejak tulisan ini di publish), para blogger saya berjanji untuk rajin menulis.

Coba kita bayangkan seandainya Marx, pengikut rasulullah, adam smith, ah nasution, sudjatmoko, tan malaka, soekarno, hos tjokroaminoto. Seandainya mereka semua tidak menulis, apa jadinya kehidupan kita sekarang? Pasti akan kering dan komunikasi menjadi peyoratif.

Di bus antar jemput karyawan yang mengangkut saya menuju pabrik, saya mencoba kembali menggali pemikiran-pemikiran besar ini.

Sebenarnya bukan pemikiran besar bagi anda yang membacanya, para blogger.
Tapi buat saya -yang dihinggapi penyakit malas menulis stadium 4-, bangkit menulis apa yang ada dikepala saya saat ini adalah luar biasa besar.

Tulisan ini adalah otokritik diri saya, para blogger. Saya harus publish, agar ada transparansi. Syukur-syukur ada pola partisipatoris dari para blogger.
Saya harus di kritik mungkin jika mulai malas menulis lagi. Parameternya minimal seminggu lima kali saya harus menulis dan mempostingkannya.

Ada beberapa bahan tulisan yang sudah saya arsipkan, sebab saya harus melakukan riset dan mematangkannya lagi.

Saya amat bergairah, para blogger saat menulis ini. Sebab gairah kemudaan saya seolah bangkit lagi.

Kembali ke paragraf awal, para blogger. Padahal dunia baca adalah dunia saya. Saya selalu orgasme dengan buku (juga dengan istri, tentunya) dan saya lebih sering menyentuh dan menggauli buku ketimbang apa pun (semoga ini tidak hiperbolis).
Namun itu, akhirnya lebih sering seperti masturbasi intelektual karena tak tersalurkan.

Ini kali saya benar-benar sadar, bahayanya manusia yang tidak menulis.

Semangat!

Posted with WordPress for BlackBerry.

About Place And Idea

Hopping tour (imaginary). become an imaginary due to limited time. starting from the Affairs of work unfinished, yet nothing – until the overlap by other things. I'm also interested, preferring organic growth investment rather than speculation. Ask me any questions, I can chat-chatting about the economy, capital markets, political philosophy, history, literature, film, music and you. Yes, you.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s